Loading...

Jumat, 09 September 2011

percobaan sederhana terhadap pernapasan hewan


Pernapasan Hewan
Tujuan
: Membuktikan bahwa pernapasan hewan
membutuhkan Oksigen.
-Mengukur laju konsumsi oksigen pada jangkrik
menggunakan respirometer.
- Mengukur laju konsumsi oksigen pada kecoa
menggunakan respirometer.
Teori Dasar
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
(Tobin, 2005).
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas (Tobin, 2005).
Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer Scholander. Penggunaan masing- masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju konsumsi oksigennya.
Alat dan Bahan
a.
Respirometer
b.
Larutan KOH 4% atau kristal NaOH
c.
Larutan Eosin ( Boleh pewarna lain, hanya sebagai tanda)
d.
Berbagai jenis Serangga (Misal: Jangkrik, Belalang,
dan kecoa)
Langkah Kerja
1. Masukkan kapas ke dalam botol respirometer, kemudian beri kristal NaOH. Sehingga terjadi pengikatan karbondioksida dengan dimikian udara di dalam botol bebas karbondioksida.
2. Masukkan satu jenis serangga ke dalam respirometer.
3. Tutuplah botol respirometer pada ujung pipa kaca ( atau pipa sedotan) tetesi dengan larutan eosin/larutan pewarna lainnya sebagai tanda (letakan respirometer secara mendatar jaga agar jangan terguling. Biarkan serangga melakukan respirasi di dalam botol.
4. Beri tanda dengan spidol pada pipa bertepatandengan pewarna merah, amati apakah terjadi gerakan air berwarna menuju ke arah botol.
5.
Catat waktunya dalam 1 menit beberapa cm gerkan tetes air berwarna tersebut? Lakukan pengukuran setiap menit hingga seluruhnya mencapai 5 menit.
6. Lakukan berulang kali dengan menggunakan jenis-jenis erangga lainnya bandingkan hewan mana yang memiliki laju respirasi tercepat
7. Matikan salah satu hewan tersebut kemudian masukkan
ke dalam respirasi meter adakah gerakan air pada pipa?
8. Apakah kesiumpulan kalian? Catat dan diskusikan dan
laporkan hail praktikum.

Data Pengamatan
Waktu
Volume Udara
Jangkrik
Kecoa
1 Menit
0,4 ml
0,2
2 Menit
0,5 ml
0,33
3 Menit
0,6 ml
0,5
4 Menit
0,7 ml
0,59
5 Menit
0,8 ml
0,65
Rata-rata
0,6 ml
0,454
Pertanyaan
1.
Apakah tujuan pemberian NaOH pada tabung respirometer?
2.
Bandingkan pergerakan cairan eosin pada ketiga pipa.
3. Mengapa cairan pada pipa berskala (perangkat 2 dan 3)
dapat bergerak?
4. Berdasarkan percobaan faktor apa saja yang
mempengaruhi pernapasan?
5. Selain dalam percobaan di atas, Faktor apa lagi yang
mempengaruhi percepatan pernapasan?
Jawaban
1. Tujuannya adalah untuk mengikat karbondioksida yang
dikeluarkan selama pernapasan oleh serangga.
2.
- Pada jangkrik : Hampir setiap menitnya naik 0,1 ml
- Pada kecoa
: Setiap menitnya naik+0,17 ml
3.
Karena serangga dalam respirometer menghirup udara (O2) melalui pipa berskala sehingga cairan eosin dapat bergerak.
4.
-
Kondisi Fisik
- Suhu tubuh
- Suhu dalam Respirometer
5.
-
Aktifitas
- Umur




C. Alat dan Bahan
- Kapas
- Respirometer sederhana
- Timbangan
- Pipet tetes
- Vaselin
- Kristal NaOH
- Tinta bak/kerosene yang diberi warna
- Jangkrik
D. Cara kerja
1. Memasukkan Kristal KOH yang telah di bungkus oleh kapas ke dalam respirometer sederhana.
2. Menimbang botol tersebut, kemudian memasukkan hewan (jangkrik) dan menimbang kembali botol tersebut dan selisih berat dari kedua timbangan ini sama dengan berat hewan tersebut.
3. Menutup botol tadi dengan prop yang ada skalanya, dan mengolesi di sekeliling prop tadi dengan vaselin.
4. Meletakkan botol tersebut secara miring di atas meja, sehingga kedudukan pipet sejajar dengan meja.
5. Meneteskan tinta bak ke dalam pipet dari ujung yang terbuka. Kemudian mengamati pergerakan tinta tadi serta mencatat jarak yang di tempuh selama 1 menit.
6. Menghitung volume udara dalam pipet tadi selama 1 menit, percobaan diulangi sampai 3 kali.
7. Melakukan percobaan tersebut pada hewan (jangkrik) dengan jenis kelamin yang berbeda.
8. Menghitung konsumsi oksigen per bobot badan (ml/gram) dalam setiap jam.
E. Hasil Pengamatan
Jangkrik jantan
Waktu Oksigen yang di konsumsi
Menit ke-1 0,14
Menit ke-2 0,19
Menit ke-3 0,24
Jumlah rata-rata 0,19

Jangkrik betina
Waktu Oksigen yang di konsumsi
Menit ke-1 0,35
Menit ke-2 0,47
Menit ke-3 0,57
Jumlah rata-rata 0,46
Berdasarkan tabel di atas, dapat kita ketahui bahwa jumlah oksigan yang di konsumsi oleh jangkrik betina lebih besaar dari pada jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik jantan. Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik jantan adalah 0,19 dan pada jangkrik betina adalah 0,46.
F. Pembahasan
Dari hasil pengamatan di atas, bahwa jumlah oksigan yang di konsumsi oleh jangkrik betina lebih besaar dari pada jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik jantan. Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik jantan adalah 0,19 dan pada jangkrik betina adalah 0,46.
Pada dasarnya, respirasi adalah proses oksidasi yang dialami SET sebagai unit sspenyimpan energi kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul gula atau asam-asam lemak, dapat dipecah dengan bantuan enzim dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi eksoterm (melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP atau NADP membentuk ATP atau NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok kebutuhan energinya dari kedua kelompok senyawa terakhir ini.

2.1 Pengertian Mikroskop
Karena pancaindera manusia memiliki kemampuan yang terbatas, banyak masalah mengenai organisme yang ingin dipecahkannya hanya dapat diperiksa dengan menggunakan alat-alat. Adapun alat yang digunakan adalah mikroskop (Latin : mickro = kecil, spocopium = penglihatan) yang memungkinkan seseorang untuk dapat mengamati objek (Latin : objectum = sesuatu yang diketengahkan) dan gerakan yang sangat halus sehingga tidak dapat dilihat oleh kekuatan mata telanjang. Jadi pengertian dari mikroskop adalah alat bantu yang digunakan seseorang untuk mengamati objek yang mempunyai gerakan yang sangat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. (Anonymous, 2008).
2.2 Macam-macam Mikroskop
Mikroskop terdiri atas beberapa macam menurut afidhamr (2008) adalah sebagai berikut:
  1. Mikroskop cahaya
Memiliki perbesaran maksimal 1000 kali berfungsi untuk melakukan perbesaran dengan bantuan cahaya.
  1. Mikroskop stereo
Merupakan jenis mikroskop yang hanya dapat digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar.
  1. Mikroskop elektron
Mikroskop yang mampu melakukan perbesaran objek sampai dua juta kali.
  1. Mikroskop ultraviolet
Merupakan suatu variasi dari mikroskop cahaya biasa.
  1. Mikroskop pender
Mikroskop yang dapat mendeteksi adanya benda asing atau antigen dalam saringan.
  1. Mikroskop medan – gelap
Mikroskop yang digunakan untuk mengamati bakteri hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya mikroskop majemuk.
  1. Mikroskop fase kontras
Mikroskop yang digunakan untuk mengamati benda hidup dalam keadaan alamiah.
  1. Mikroskop elektron
Mikroskop ini digunakan untuk studi detail arsitektur permukaan sel atau struktur, jasad renik dan objek teramati secara tiga dimensi.
2.3 Bagian-bagian Mikroskop dan Fungsinya
Adapun beberapa bagian-bagian mikroskop yang memiliki bagian-bagian tertentu, yaitu berdasarkan Warghar (2009):
  1. Lensa objektif : untuk memperbesar bayangan dari lensa obyektif.
  2. Revolver : untuk memasang lensa obyektif.
  3. Lensa okuler : untuk memperbesar bayangan dari lensa obyektif.
  4. Tubulus okuler :. menghubungkan lensa okuler, revolver dan lensa obyektif.
  5. Diafragma : mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk.
  6. Kondensor : memusatkan cahaya pada preparat yang diamati.
  7. Dasar atau kaki : sebagai penyangga
  8. Tiang penyangga : menghubungkan dasar dengan pegangan mikroskop.
  9. Lensa mikroskop : sebagai tempat untuk memegang mikroskop.
  10. Meja benda : sebagai tempat untuk meletakkan preparat yang akan diamati dengan mikroskop.
  11. Penjepit : sebagai penjepit kaca yang berisi preparat agar tidak bergeser-geser.
  12. Makrometer : menggerakkan lensa naik turun secara cepat.
  13. Mikrometer : menggerakkan lensa naik turun secara perlahan-lahan.
Sumber gambar:
3. METODOLOGI
3.1 Alat dan Fungsi
Dalam praktikum ini alat yang digunakan yaitu sebagai berikut:
  1. Mikroskop : untuk mengamati benda atau objek yang sangat kecil dan gerakan yang sangat halus dan tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.
  2. Cutter atau silet : untuk membelah atau mengiris bagian yang akan diamati.
  3. Jarum pentul : untuk mengambil sampel bahan yang akan diamati.
  4. Pipet tetes : untuk mengambil cairan.
  5. Gunting : untuk memotong bahan yang akan diamati.
  6. Objek glass : untuk meletakkan objek yang akan diamati.
  7. Gelas piala : untuk meletakkan suatu cairan.
  8. pinset : alat bantu untuk mengambil bahan yang akan diamati.
3.2 Bahan dan Fungsi
Dalam praktikum ini bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
  1. potongan kertas karton : sebagai bahan yang akan diamati.
3.3 Skema Kerja
Langkah-langkah kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. menyiapkan mikroskop
2. Lengan mikroskop dipegang dengan tangan satu secara erat, lalu tangan lain menyangga mikroskop.
3. Mikroskop diletakkan dengan hati-hati di atas meja laboratorium sehingga lengannya mengarah ke tempat duduk dan obyek mengarah ke tempat yang berlawanan
4. Menyiapkan preparat
5. Diamati di mikroskop
6. Hasil
4. PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
Sifat bayangannya: nyata, terbalik dan lebih besar.
4.2 Analis Prosedur
Pertama-tama siapkan mikroskop lalu pegang mikroskop dengan cara lengan mikroskop dipegang dengan satu tangan secara erat, setelah itu tangan yang lain menyangga atau memegang kaki mikroskop. Lalu mikroskop diletakkan diatas meja secara perlahan dan lengannya mengarah ke tempat duduk praktikan, pastikan juga meja obyek mengarah ke tempat yang berlawanan. Setelah itu siapkan objek yang akan diamati, lalu letakkan bahan atau objek yang akan diamati diatas objek glass, kemudian tutup objek glass tersebut dengan cover glass. Tetapi sebelum bahan atau objek yang akan diamati ditutup dengan cover glass beri sedikit Aquades untuk merekatkan bahan dengan objek glass dan agar terlihat lebih jelas jika diamati dengan mikroskop. Pada saat meneteskan Aquades ke bahan yang akan digunakan pipet harus berada pada kemiringan ±45° agar tidak terjadi gelembung. Apabila jika ada gelembung maka bahan atau obyek yang diamati tersebut tidak akan terlihat jelas pada pengamatan di mikroskop dan kita harus mengulanginya lagi.
4.3 Analisa Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan, adapun analisa hasilnya yaitu sebagai berikut:Diperbesar, Nyata, Terbalik
Adapun sifat bayangan dari mikroskop yaitu diperbesar, nyata dan terbalik.
Jadi, pada data hasil percobaan yang telah dilakukan adalah benar dan sama seperti literatur.
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Bayangan hasil dari percobaan mikroskop nyata, terbalik dan diperbesar.
2. Mikroskop yang sering digunakan di laboratorium yaitu mikroskop cahaya.
3. Macam-macam mikroskop yaitu mikroskop cahaya, mikroskop stereo, mikroskop elektron, mikroskop ultraviolet, mikroskop pender, mikroskop medan gelap, mikroskop fase kontrol.
4. Mencari perbesaran hasil pengamatan dari mikroskop yaitu lensa okuler x lensa objektif.
5. Waktunya agar diperpanjang.
5.2 Saran